Langsung ke konten utama

CERDAS EMOSIONAL DAN SPRITUAL


Alhamdulillah, mendapat pencerahan diacara seminar cerdas emosional dan spritual hari ini. walaupun sebagian isi seminar merupakan hal sudah pernah didapat namun mungkin pemahaman  akan nilai (value) yang masih kurang.
Kita kadang cenderung menilai bahwa anak pintar adalah anak yang bisa membaca dan menulis pada usia tertentu, mendapat rangking disekolah, punya hafalan yang banyak. Bahkan ketika bertemu dengan anak-anak teman atau saudara, yang kita tanyakan rangking berapa kakak/abang?, sudah berapa juz hafalannya nak?.
Tanpa sadar ternyata kita menilai keberhasilan itu dari seberapa banyak ilmu yang sudah dihafal dan dikuasai, bukan dari seberapa besar nilai (adab/akhlak) yang mempengaruhinya.
Seorang salafusholeh berkata pada anaknya," wahai anakku, engkau mempelajari satu bab  Adab lebih aku sukai daripada engkau mempelajari 70 bab Ilmu".
Maka tak heran ketika seseorang hanya berorientasi pada materi (ilmunya) saja, ia akan mendapatkan ilmunya tanpa ada pengaruh value. Hal ini Mungkin sekali membuat anak  pinter namun cuek, kurang empati, kurang santun, sedikit egois.
Peran orangtua sangat penting sekali dalam mendidik anak-anaknya. Akhlak itu terbentuk ketika orang tua dapat menyentuh qalbu anak. Bukankah Rasululla saw mengatakan : "Didalam tubuh ada segumpal daging jika ia baik maka baiklah seluruhnya, namun jika ia buruk maka buruklah seluruhnya. ketahuilah bagian itu adalah qalbu. Di qalbu inilah letak dari kecerdasan  emosional dan spritual itu berada. Dengan memasukkan nilai-nilai Alquran dan as-sunnah kedalam qalbunya, maka akan terbentuk karakter kepribadian  Islam yang kokoh.
Kecerdasan spritual merupakan tingkatan tertinggi dari kecerdasan, yaitu digunakan untuk menghasilkan arti (meaning) dan nilai (value). Kecerdasan spritual yang  berkembang baik, ditandai dengan kemampuan seseorang beradabtasi terhadap lingkungannya, memiliki tingkat kesadaran yang tinggi, mampu menghadapi tantangan hidup, mampu mengambil pelajaran yang berharga dari suatu kegagalan, mempunyai visi dan misi dalam hidup,  mandiri, serta pada akhirnya membuat seseorang mengerti akan makna hidupnya.
Semoga kita menjadi orang tua yang sholeh dan bijaksana, sebagaimana Allah contohkan didalam Alquran dengan kisah Lukmanul hakim, juga belajar dari teladan kita Rasulullah saw dalam mendidik buah hatinya...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

QURAN AND OUR BUSY LIFE

  Wal asr, wal fajri, wadduha, wannahar wallail  Allah memulai konten nasehat dalam Alquran dengan mengunakan waktu menandakan waktu itu berharga, apalagi sampai bersumpah. Jika kita bersumpah pasti dengan sesuatu yang nilainya tinggi, ini menandakan pentingnya waktu. Rasulullah Saw dan para sahabat menghargai waktu berdasarkan bimbingan Alquran Imam Hasan Al Basri memisalkan hari seperti makanan anak-anak yang berbentuk stik sambil mengatakan "Wahai anak adam sesungguhnya kalian tidak lain adalah Kumpulan hari-hari, jika hilang satu hari hilanglah satu bagian dalam masa hidup mu".  Ini mindset tentang waktu. Ungkapan lain "waktu sepeti pedang jika kamu tidak mengunakannya dengan baik maka bersiaplah untuk dipenggal. Aset waktu yang Allah berikan pada setiap orang memang sama 24 jam, namun betapa banyak orang yang mengatakan "aduh gue ngak punya waktu" Siapa sih pemilik waktu?   Bukan kita, Allah pemilik waktu "walahu maa fii samawati wal ardhi" (hany...

MAJU MUNDUR CANTIK

Assalamu'alaikum shalihah cantik... Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang memberikan kita banyak nikmat juga kesempatan utk berbuat kebaikan salah satunya bisa bersilaturahim lewat kulwap bersama sholihah cantik disini. Tak lupa shalawat dan salam pada Rasulullah saw sebagai teladan umat. Btw ngomongin tentang cantik bentuk rupa,  memang Allah telah menyebutkan ttg ini didalam surat At tiin لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ -٤- “Sungguh, Kami telah Menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (At-Tin 4) Coba deh bandingkan makhluk Allah lainnya dengan manusia, siapa yg paling sempurna cantik bentuk dan rupanya. Pasti jawabannya manusia. Manusia memang su...

MENCARI YANG SAMA

الأَرْوَاحُ جُنُوْدٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَا مِنْهَا اخْتَلَفَ “Ruh-ruh itu seperti tentara yang berhimpun. Apabila mereka saling mengenal (sifatnya, kecenderungannya sama) maka akan saling bersatu, dan apabila saling berbeda maka akan tercerai-berai.” Ruh yang baik sifatnya akan mencari teman yang baik juga sebaliknya ruh yang buruk akan  mencari teman yang sama. Seperti juga burung yang berje...